Ketika entah di SLTP atau SLTA, dalam pelajaran Bahasa Indonesia yang salah satu isinya memberikan pengertian bahwa struktur bangunan frasa Bahasa Indonesia berbanding terbalik dengan bahasa Inggris. Inilah yang paling diingat: frasa Bahasa Indonesia itu DM (Diterangkan-Menerangkan) sedangkan bahasa Inggris MD (Menerangkan-Diterangkan). Contohnya, kalau dalam Bahasa Indonesia bilang gadis cantik, maka dalam bahasa Inggris bilangnya beautiful girl. Keduanya merupakan frasa kata benda. Kata gadis dan girl berperan sebagai induk frasa, sedangkan cantik dan beautiful adalah kata sifat yang menerangkan kata benda yang diikuti (mengikutinya, dalam frasa bahasa Inggris). Maka, gadis diterangkan oleh cantik, dan beautiful menerangkan sifat si girl. Sampai disini semuanya beres-beres saja.

Ketika menerjemahkan sebuah teks tentang obat-obatan alami, ditemukan kata aromatheraphy dan hydroteraphy. Ketika bermaksud memberikan nalar DM dalam dua kata tersebut, yaitu terapi-aroma dan terapi-air, penyunting melarangnya. Alasannya bukan karena arometerapi telah; misalnya, menjadi satu kata utuh semacam leksikografi (dan semua yang berakhir -grafi), epistemologi (dan semua yang berakhiran -logi), atau pascakolonialisme (atau semua kata yang berakhiran -isme). Alasannya sederhana: masyarakat lebih kenal aromaterapi daripada terapi-aroma.
Terkejut!. Ini ‘kan tidak cocok dengan pelajaran Bahasa Indonesia ?! Apakah yang umum diketahui masyarakat selalu yang benar? Atau, justru sebaliknya. Di ranah kehidupan sehari-hari, untuk menyebut ice cream dan ice tea, serta semua kata yang bersusunan sama, kita langsung saja menerjemahkannya kata-per-kata: es krim, es teh, serta es-es lainnya. Bukankah induk dua frasa itu bukan es melainkan krim dan teh? Kata es tidak diterangkan oleh krim ataupun teh. Justru sebaliknya, kata es-lah yang menerangkan krim atau teh-nya. Anehnya, kita juga mendengar frasa teh hangat, jeruk hangat, atau kopi panas. Susunan frasa ini adalah yang seharusnya. Terus, mengapa kita tidak menyebut es teh dengan teh es atau teh dingin, es susu dengan susu es atau susu dingin?
Di media cetak, terutama saat musim hujan, sering terlihat frasa banjir kanal. Lho, bukankah induk frasanya kanal, dan bukan banjir? Frasa banjir kanal diambil dari bahasa Belanda bandjir kanaal, yang artinya ’saluran/terusan/kanal banjir’. Aneh kan kalau yang seharusnya berarti ’saluran banjir’ menjadi ‘banjir saluran’? Di ranah militer kita akan menemukan pangkat Letnan Jendral; dan di ranah keorganisasian, kita akan menemukan istilah Sekretaris Jendral. Kadang, dipakai frasa Sekretaris Umum. Bukankah keduanya bersusun sama dengan Lieutenant General dan Secretary General? Lalu dimana MD-DM-nya? Di lingkup politik kita menemukan frasa bahasa Inggris president elect. Bukankah seharusnya, menurut hukum MD, elected president?
Di dunia olahraga lebih menarik lagi. Dalam bahasa Inggris, kita menyebut sebuah permainan bola yang dilakukan oleh dua regu, masing-masing atas lima pemain yang berusaha mengumpulkan angka dengan cara memasukkan bola ke keranjang lawan, dengan Basket Ball, sedangkan di Indonesia kita menyebutnya Bola Basket. Dalam bahasa Inggris kita menyebut Volley Ball dan di Bahasa Indonesia kita menyebutnya Bola Voli. Sampai di sini, baik-baik saja. Lalu, bagaimana dengan sepak bola atau sepak takraw? Sepak bola dibentuk dengan kata sepak dan bola, keduanya adalah kata benda. Menurut KBBI Pusat Bahasa Edisi Keempat, sepak berarti ‘gerakan memukul sesuatu dengan kaki, dengan cara mengayunkan kaki (ke muka atau ke sisi); tendang; depak’. Apa yang disepak? Bola! Kata sepak dalam sepak bola tidak berpangkat kata kerja. Sepak bola tidak berarti menyepak bola. Dulu, untuk memanggil football, kita mengenal kata bola sepak. Inilah yang seharusnya. Namun, karena kalah jumlah penutur dan keteguhan penggunaan, kata ini dilupakan. Susunan kata sepak bola berkebalikan dengan, misalnya, sepak sila dan sepak singkur. Sepak sila artinya ‘tendangan dengan kaki sebelah dalam’ sedangkan sepak singkur maknanya ‘tendangan dengan bagian kaki sebelah luar’. Kata sila dan singkur keduanya menerangkan kata sepak. Bukan sebaliknya.
Melihat gejala banyaknya frasa yang biasa dipakai dalam Bahasa Indonesia yang tidak DM itu, membingungan juga untuk mengelompokkannya ke dalam sebuah gejala tertentu. Terbesit untuk manganggapnya sebagai sesuatu yang wajar-wajar saja. Bahkan, lebih ‘positif’ lagi, sebagai gejala yang memperkaya khazanah Bahasa Indonesia. Namun, bukankah apa yang dilakukan itu merupakan bentuk kesemena-menaan yang a-priori? Bukankah itu bentuk kemalasan memahami bahasa sendiri?
dirangkum dari > diterangkan-menerangkan, oleh wahmuji.
diterangkan, menerangkan, DM, MD, bahasa, Indonesia, Inggris, wahmuji
Diterangkan atau Menerangkan
arsip kiriman semebyar pada 13.07.2009 | 12:14 WIBdalam kategori Ini dan Itu, Pengetahuan, Unik / Menarik.





